Strategi Investasi

Strategi Diversifikasi Portofolio: Bitcoin, Emas, dan Saham

"Panduan personal menggabungkan Bitcoin, emas, dan saham dalam portofolio investor Indonesia."

Thomi Jasir ·
Strategi Diversifikasi Portofolio: Bitcoin, Emas, dan Saham

Dulu saya percaya satu prinsip: “temukan aset terbaik, taruh semua uang di situ.” Saya pikir diversifikasi cuma buat orang yang nggak yakin.

Sampai saya belajar pengalaman pahit. Tahun 2020, saya taruh semua di satu sektor. Pas krisis datang, portofolio saya anjlok 40% dalam sebulan.

Sejak itu saya paham: “jangan taruh semua telur dalam satu keranjang” bukan sekedar pepatah. Itu prinsip survival.

(Disclaimer: Ini pengalaman dan riset pribadi. Bukan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri.)


Kenapa Diversifikasi Penting?

Saya pernah dengar kata-kata bijak: risiko yang nggak bisa dihindari, harus disebar. Diversifikasi bukan soal keuntungan maksimal, tapi soal keamanan.

Kalau satu aset jatuh, aset lain bisa menopang. Kalau satu sektor kena krisis, sektor lain mungkin justru naik. Portofolio jadi lebih stabil.

Tiga Pilar Portofolio Saya

Dompet hardware untuk penyimpanan aman

Setelah banyak belajar, saya simpulkan tiga kategori aset utama:

Saham untuk pertumbuhan jangka panjang. Punya potensi return tinggi, tapi ikut naik-turun ekonomi.

Emas untuk stabilitas. Sudah teruji ribuan tahun sebagai lindung nilai. Kalau krisis, emas biasanya naik.

Bitcoin untuk eksposur aset digital. Risiko tinggi, tapi potensi juga tinggi. Korelasinya rendah dengan aset tradisional.

Karakteristik Masing-Masing Aset

Saham itu seperti ikut punya bisnis. Kalau bisnis maju, Anda untung. Tapi kalau ekonomi lesu, saham bisa tekor.

Emas seperti asuransi. Nggak akan bikin Anda kaya mendadak, tapi akan melindungi daya beli saat uang kertas kehilangan nilai.

Bitcoin seperti taruhan pada masa depan. Bisa jadi nol, bisa jadi berlipat. Nggak ada yang tahu pasti. Tapi dengan porsi kecil, risikonya terkelola.

Model Alokasi yang Saya Pakai

Saya nggak percaya ada formula pasti untuk semua orang. Tapi ini kerangka yang membantu:

Profil Konservatif (usia 50+ atau nggak tahan risiko):

  • Obligasi 50%
  • Saham 25%
  • Emas 15%
  • Reksa Dana 10%
  • Bitcoin 0%

Profil Moderat (usia 35-50):

  • Saham 40%
  • Obligasi 30%
  • Emas 15%
  • Bitcoin 5%
  • Reksa Dana 10%

Profil Agresif (usia 25-35):

  • Saham 50%
  • Bitcoin 10%
  • Emas 10%
  • Obligasi 15%
  • Reksa Dana 15%

Angka ini bukan absolut. Sesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Contoh Praktis

Bayangkan Anda punya Rp 100 juta. Dengan profil moderat, alokasinya:

  • Saham: Rp 40 juta
  • Obligasi: Rp 30 juta
  • Emas: Rp 15 juta
  • Bitcoin: Rp 5 juta
  • Reksa Dana: Rp 10 juta

Kalau saham turun 20% dan Bitcoin turun 30%, tapi emas naik 5% dan obligasi naik 3% kerugian total “cuma” sekitar 7-8%.

Tanpa diversifikasi? Kerugian bisa jauh lebih besar.

Yang Perlu Diperhatikan

Saya belajar beberapa hal penting:

Jangan over-diversify. Terlalu banyak aset justru bikin rumit. 4-5 kategori sudah cukup.

Perhatikan korelasi. Pilih aset yang nggak bergerak bersamaan. Saham dan obligasi biasanya berlawanan arah saat krisis.

Rebalance berkala. Setiap 6-12 bulan, cek alokasi. Kalau sudah menyimpang, kembalikan ke target.

Konsisten. Nggak usah sering utak-atik. Strategi yang baik adalah yang bisa dijalankan konsisten.

Kesalahan yang Pernah Saya Buat

Dulu saya sering “timing the market” coba tebak kapan beli dan jual. Hasilnya? Sering meleset.

Saya juga pernah terlalu konsentrasi di satu aset. Saat aset itu naik, saya merasa jenius. Saat turun, saya panik.

Pelajaran terbesar: diversifikasi bukan soal keuntungan maksimal. Tapi soal ketahanan. Soal bisa tetap tidur nyenyak walau pasar gonjang-ganjing.

Kesimpulan

Diversifikasi adalah bentuk penghargaan pada risiko. Saya nggak tahu mana aset yang akan naik tahun depan. Tapi dengan menyebarkan taruhan, saya tidak perlu tahu.

Bitcoin untuk potensi tinggi. Emas untuk stabilitas. Saham untuk pertumbuhan. Bersama-sama, mereka membentuk portofolio yang lebih tangguh.

Mulai kecil, konsisten, dan sesuaikan dengan profil risiko Anda. Waktu di pasar lebih penting daripada timing pasar.

Tanya Jawab

Q: Berapa minimal aset untuk diversifikasi? A: Nggak ada minimal mutlak. Yang penting proporsional. Dengan Rp 10 juta pun bisa mulai, mungkin cuma 2-3 aset dulu.

Q: Harus punya semua aset? A: Tidak harus. Sesuaikan dengan pemahaman dan kenyamanan Anda. Tapi minimal 3 kategori berbeda.

Q: Seberapa sering harus rebalance? A: Saya rebalance setiap 6 bulan atau kalau alokasi menyimpang lebih dari 5% dari target.

Q: Bitcoin wajib dalam portofolio? A: Tidak wajib. Tapi untuk yang penasaran dengan potensi aset digital, alokasi kecil (1-5%) bisa jadi pintu masuk yang aman.

Referensi

  • Mobee Academy. (2025). Strategi Diversifikasi Portofolio Kripto, Emas, dan Saham.
  • Gotrade Blog. (2026). Peran Emas, Bitcoin, dan Saham dalam Portofolio.
  • Pluang Academy. (2026). Korelasi Bitcoin dan Emas.
  • Bisnis Indonesia. (2026). Emas atau Bitcoin saat Ekonomi Tak Pasti.