Panduan Investasi Bitcoin Aman untuk Pemula
"Strategi aman investasi Bitcoin di Indonesia dengan pendekatan personal dan praktis."
Dulu saya pikir Bitcoin cuma buat teknisi atau penjudi. Sesuatu yang terlalu berisiko, terlalu volatil, dan terlalu teknis. Saya cuma diam di pinggir, nonton dari jauh.
Tapi semakin saya pelajari, semakin saya paham. Bukan cuma soal teknologi, tapi soal sistem keuangan itu sendiri.
(Disclaimer: Ini pengalaman dan riset pribadi saya. Bukan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri.)
Dari Skeptis Jadi Tertarik
Awalnya saya nolak mentah-mentah. Bitcoin nggak punya nilai intrinsik. Nggak bisa dipegang. Kalau mati lampu, apa yang saya punya?
Tapi saya mulai belajar tentang sistem perbankan. Bagaimana uang diciptakan. Bagaimana inflasi menggerogoti nilai tabungan.
Saat paham kalau dollar AS bisa dicetak sebanyak apapun pemerintah mau, konsep mata uang dengan pasokan terbatas mulai masuk akal. Itu momen “lentera” saya.
Strategi 1% yang Mengubah Segalanya

Saya nggak jual rumah buat beli Bitcoin. Saya nggak “all in”. Saya pakai strategi yang disebut “aturan 1%” alokasi cuma 1% dari total portofolio.
Kalau total investasi saya Rp 100 juta, cuma Rp 1 juta yang masuk Bitcoin. 99% tetap di instrumen konvensional: saham, obligasi, deposito.
Kenapa cuma 1%? Karena risikonya terbatas, tapi potensinya nggak. Namanya taruhan asimetris kerugian maksimal cuma 1%, keuntungan bisa jauh lebih besar.
Siapa Saja yang Pakai Strategi Ini?
Saya kira cuma anak muda tech-savvy yang berani ambil risiko besar. Ternyata salah.
Paul Tudor Jones, miliarder dan hedge fund manager legendaris, tahun 2020 umumkan dia alokasi 1-2% asetnya ke Bitcoin. Dia anggap sebagai lindung nilai inflasi.
Ric Edelman, penasihat keuangan terkemuka di AS, juga merekomendasikan alokasi serupa. Katanya, “NgGak perlu banyak untuk dapat benefit.”
Bahkan MassMutual, perusahaan asuransi raksasa, beli Bitcoin senilai $100 juta. Terdengar besar, tapi cuma 0.1% dari total aset mereka.
Kalau mereka yang kelola miliaran dolar pakai strategi ini, mungkin kita juga harus pertimbangkan.
Perhitungan Sederhana
Bayangkan Anda punya tabungan Rp 10 juta.
Skenario Buruk: Bitcoin jatuh ke nol. Anda rugi Rp 100.000. Hidup nggak berubah. Masih bisa bayar kontrakan, masih bisa makan. Cuma weekend yang jelek, bukan hidup yang hancur.
Skenario Baik: Bitcoin naik 10x dalam beberapa tahun. Rp 100.000 jadi Rp 1 juta. Total portofolio Anda bertambah signifikan dari modal kecil.
Risiko terbatas di -1%, tapi keuntungan nggak ada batasnya. Dalam dunia investasi, ini yang disebut “Holy Grail.”
Regulasi Indonesia 2026

Tahun 2026, pengawasan aset kripto beralih dari Bappebti ke OJK. Ini perubahan besar.
Standar modal platform naik dari Rp 50 miliar jadi Rp 100 miliar. Pengawasan setara sektor perbankan. Dana nasabah harus dipisahkan dari dana operasional.
Artinya? Investor punya perlindungan lebih baik. Platform yang nggak mampu memenuhi standar akan tersingkir. Yang tersisa adalah yang serius dan terpercaya.
Tips Memilih Platform
Setelah regulasi baru, memilih platform jadi lebih mudah. Tapi tetap perlu cek:
- Lisensi OJK (wajib)
- Reputasi dan track record
- Sistem keamanan (cold storage, 2FA)
- Biaya transaksi kompetitif
- Kemudahan tarik dana
Jangan cuma lihat fee murah. Keamanan dan regulasi lebih penting.
Dollar Cost Averaging
Saya nggak coba tebak kapan harga terbaik. Saya pakai strategi DCA (Dollar Cost Averaging) beli rutin dalam jumlah sama.
Misalnya, beli Rp 500.000 setiap minggu. Nggak peduli harga naik atau turun. Konsisten aja.
Keuntungannya? Nggak perlu stress timing pasar. Volatilitas jangka pendek nggak terasa. Dan kebiasaan investasi terbentuk.
Kesimpulan
Untuk saya, aturan 1% adalah jembatan antara skeptisisme dan aksi. Saya nggak perlu jadi ahli teknologi. Nggak perlu jadi day trader.
Cukup paham risiko, tentukan alokasi yang masuk akal, dan konsisten. Dengan taruhan kecil, pintu menuju potensi besar terbuka.
Kalau saya salah? Ya cuma salah 1%. Masih bisa tidur nyenyak.
Tanya Jawab
Q: Harus beli 1 Bitcoin utuh? A: Tidak! Bitcoin bisa dibagi. Anda bisa beli Rp 50.000 atau Rp 100.000 saja.
Q: Kalau 1% itu jadi 10% karena harga naik? A: Itu masalah bagus! Namanya rebalancing. Jual sebagian, kembalikan ke instrumen lebih aman.
Q: Boleh alokasi lebih dari 1%? A: Bisa, tapi untuk pemula, 1% angka yang bikin tidur nyenyak. Di atas 5%, volatilitas mulai mengganggu portofolio.
Referensi
- OJK & Bappebti. (2026). Siaran Pers Peralihan Pengawasan Aset Digital. https://ojk.go.id/
- Jones, P.T. (2020). Macro Outlook – The Great Monetary Inflation.
- Edelman, R. (2020). Bitcoin and the Case for 1% Allocation.
- Interactive Brokers. (2026). Crypto: From Narrative to Institutional Asset.